6 страница29 апреля 2026, 14:58

5

𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐯𝐨𝐭𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚𝐚... 𝐒𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚.
(づ ̄ ³ ̄)づ

51348bbe3c8fb56c8ba4cb2766547f34.jpg

♛┈⛧┈┈•༶♡✾♡༶•┈┈⛧┈♛

Saat mereka sedang dalam perjalanan kembali ke rumah Iron Ginger, udara di sekitar mulai berubah. Aroma aneh menyelimuti hutan, seperti campuran darah dan kayu basah, menusuk indera penciuman mereka dengan samar namun menekan. Langkah kaki mereka otomatis melambat, seakan tubuh mereka merasakan bahaya sebelum mata bisa menangkapnya.

Hutan yang tadi terasa tenang kini seakan menahan napas. Kabut tipis merayap rendah, mengisi celah akar-akar pohon tua dan menutup sebagian jalur mereka. Cahaya bulan yang lembut terpotong-potong oleh dahan hitam yang saling bertaut, menciptakan bayangan bergerak yang membuat bulu kuduk meremang.

Cellestial berhenti lebih dulu. Tangannya mencengkeram jubahnya dengan erat, matanya menyapu kegelapan di depan mereka. Wajahnya pucat, namun sorot matanya tetap tajam, penuh kewaspadaan.

Dengan suara bergetar, ia berbisik, "Apa itu…?"

Miamor menatap sekelilingnya, jantungnya berdegup lebih cepat. Di benaknya, suara berat Iron Ginger terngiang jelas: Hutan malam dipenuhi monster… Namun sebelum ia sempat memperingatkan yang lain, bayangan besar muncul di balik pepohonan.

Mata merah menyala muncul satu, lalu dua, hingga belasan, mengintai dari kegelapan. Tubuh mereka menyerupai serigala raksasa, namun kulitnya tersusun dari kayu hitam retak-retak. Darah segar mengalir di sela-sela kayu, menetes ke tanah. Raungan berat mereka bergema, membuat tanah bergetar dan dedaunan gugur tertiup gelombang suara itu.

"Blood Woody Wolf…" gumam Miamor, suaranya hampir tak terdengar karena ketegangan yang membelit dadanya. "Mereka datang."

Kawanan itu mengepung mereka, bergerak perlahan namun pasti. Cakar kayu mereka beradu satu sama lain, tetesan darah jatuh ke tanah seperti hujan merah yang menghitamkan dedaunan basah. Suara ranting patah terdengar di seluruh hutan, menambah ketakutan yang mencekam.

Miamor melangkah ke depan, berdiri di antara Cellestial dan Myuran. Suaranya tegas, meski dadanya sesak. "Kita tak bisa kabur. Kalau lari sekarang, kita akan diterkam satu per satu. Kita lawan."

Ia menepukkan tangannya ke tanah. Mantra dingin mengalir dari telapak tangannya, menjalar seperti akar kristal yang tumbuh cepat. Dalam sekejap, pelindung es kristal menjulang di sekeliling mereka, memantulkan cahaya biru yang tajam. Cakar para serigala menghantam permukaan es, memercikkan cahaya dingin yang menusuk mata.

Myuran menutup mata, merasakan energi air di sekelilingnya. Ia memanggil roh air dari genangan dan embun, pusaran deras terbentuk di udara, menghantam beberapa serigala hingga tubuh kayu mereka terpental ke pohon dengan bunyi retak keras. Hutan bergemuruh, namun mereka tak memberi tanda menyerah.

Cellestial, meski tangan gemetar dan napas tersengal, tetap menarik busurnya. Panah demi panah dilepaskan, setiap anak panah menembus tubuh kayu serigala, membuat serpihan beterbangan ke udara. Namun jumlah mereka tak berkurang. Dari kegelapan, lebih banyak mata merah bermunculan, seolah hutan mengirim lebih banyak penghuni malam untuk menghalangi.

Napas Myuran tersengal. "Masih banyak… mereka seperti tak ada habisnya."

Cellestial menoleh cepat, kantong anak panahnya kosong. Wajahnya memucat, ketakutan memancar jelas. "Aku… aku kehabisan panah," katanya, suaranya hampir pecah.

Pelindung es Miamor mulai retak di beberapa bagian. Ia mengatupkan gigi, keringat dingin menetes di pelipisnya. "Pelindung ini masih bisa bertahan sebentar. Kita lari. Sekarang. Ke rumah Tuan Ginger. Jangan menoleh!"

Dengan segera, mereka menembus celah di antara kawanan serigala, bergerak cepat di bawah pelindung es yang mulai bergetar. Raungan mengerikan mengiringi langkah mereka, cakar-cakar menghantam es dari segala arah. Terkadang serpihan kayu melayang, menghantam pepohonan dan tanah.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti jam, bayangan merah perlahan memudar. Raungan mengecil, dan hutan tampak menelan para monster itu kembali ke dalam kegelapan. Mereka berhenti, napas terengah-engah, tubuh gemetar akibat adrenalin.

Cellestial menatap Miamor dengan mata berbinar. "Kau… luar biasa, Amor. Pelindung itu… benar-benar keren," katanya, suaranya masih gemetar namun penuh kekaguman.

Miamor tersenyum lemah, pundaknya masih naik turun cepat. "Aku cuma tak mau kita jadi santapan malam. Kita harus cepat keluar dari hutan ini. Serigala itu mungkin tak terlihat sekarang… tapi aku tak yakin mereka benar-benar pergi."

Langkah mereka perlahan kembali ke jalan yang lebih aman. Kabut masih menyelimuti, namun hati mereka lebih ringan karena selamat dari serangan pertama.

Tak lama kemudian, mereka sampai di rumah Iron Ginger. Sang dwarf terbelalak saat melihat batu-batu magis yang mereka bawa. Tangannya gemetar saat menyentuh permukaannya. "Batu ini… luar biasa langka," katanya pelan, nyaris tak percaya. “Dengan ini aku bisa menempa senjata magis. Tapi aku butuh satu hari penuh.”

"Itu tak masalah," jawab Miamor mantap. "Kami bisa menunggu."

Cellestial menunduk sopan, senyum hangat terbit di wajahnya. “Terima kasih banyak, Tuan Ginger. Tanpa bantuanmu, kami tak akan bisa sejauh ini.”

Iron Ginger tertawa kecil, menggeleng. "Kalian ini… keras kepala, tapi hati kalian baik."

Malam itu mereka membantu membereskan rumah, menyiapkan peralatan dan perlengkapan. Api unggun di ruang tamu memantulkan cahaya hangat, menutupi kegelapan luar. Suara palu dan dentingan logam terdengar dari sudut rumah, tanda Iron Ginger mulai menyiapkan senjata. Ketegangan dari malam sebelumnya perlahan berganti rasa aman, namun mereka sadar ketenangan itu hanya sementara.

Mereka makan malam sederhana bersama, lalu beristirahat. Kasur sederhana dan selimut tebal memberikan kehangatan, namun pikiran mereka masih terjaga. Tidak ada yang benar-benar bisa tidur nyenyak; rasa takut dan antisipasi akan bahaya selanjutnya membayangi setiap mimpi.

Pagi berikutnya tiba dengan cahaya matahari yang menembus jendela rumah. Burung-burung bernyanyi riang, angin membawa aroma tanah basah dan daun hijau yang masih segar oleh embun malam. Pagi yang indah, seakan menyembunyikan ketegangan besar yang akan datang. Kepergian seorang putri, meski hanya untuk mencari sahabatnya, telah mengguncang keseimbangan dunia.

Mereka berpamitan dan memulai perjalanan kembali ke wilayah masing-masing. Di perbatasan hutan, mereka berhenti, menatap arah rumah dan jalan yang akan mereka lalui. Cellestial menunduk, suaranya pelan, hampir seperti doa. "Aku harus pulang… ayah pasti khawatir."

Myuran tersenyum tipis, meski matanya menyimpan berat. "Aku juga. Tapi… telur ini siapa yang akan membawanya?"

Miamor menatap telur biru keemasan di pelukannya, kemudian menoleh ke dua sahabatnya. "Aku yang akan merawatnya. Tenang saja. Dan perjalanan ini baru permulaan. Kita pasti bertemu lagi."

Angin pagi berhembus lembut, dedaunan menari di udara. Cahaya matahari menyorot wajah mereka, membuat ketegangan dan kelelahan malam sebelumnya terasa sedikit memudar.

Cellestial tersenyum kecil, menatap Miamor. "Sampai jumpa. Jangan mati sebelum aku kembali."

"Janji," jawab Miamor pelan, suaranya menenangkan namun sarat makna.

Mereka berpisah di bawah langit pagi yang berkilau, masing-masing membawa harapan dan tanggung jawab yang besar. Cellestial kembali ke istana, namun begitu memasuki halaman, ia terdiam. Pandangannya membeku melihat barisan pasukan bersenjata lengkap, bendera perang berkibar tinggi, menandakan sesuatu yang lebih besar tengah menanti.

Ia berlari ke ruang singgasana, suaranya bergetar saat ayahnya menjelaskan rencana perang yang akan segera dimulai. "Berperang?!"

Dada Cellestial terasa sesak saat kebenaran menghantamnya. Semua keputusan, semua perjalanan rahasia yang telah ia lakukan, kini terasa seolah memengaruhi seluruh kerajaan.

Di sisi lain, Hutan Aetheria pun bersiap menghadapi perang. Ketegangan menyelimuti pepohonan dan setiap makhluk di dalamnya. Saat Cellestial diam-diam datang ke desa elf untuk mencoba menghentikan konflik, suasana langsung menegang. Panah-panah diarahkan padanya, dan sorot mata Roslyn penuh amarah.

Pertengkaran hampir meledak hingga Miamor muncul. Dengan suara gemetar namun penuh tekad, ia berdiri di antara ibunya dan Cellestial.

"Ibu… berhenti. Dia sahabatku," katanya.

Keheningan jatuh. Roslyn membeku sejenak, lalu matanya dipenuhi kekecewaan yang mendalam. "Sahabatmu… manusia?"

Air mata jatuh dari wajah Miamor. Ia menggenggam tangan Cellestial dan menariknya pergi, menjauh dari desa elf, menjauh dari semua yang pernah ia kenal.

Roslyn hanya berdiri diam, menatap punggung putranya yang menjauh, hatinya diliputi amarah dan kekecewaan, mengetahui bahwa masa depan hutan dan bangsanya kini tergantung pada keputusan para muda-mudi itu.

*****

6 страница29 апреля 2026, 14:58

Комментарии

0 / 5000 символов

Форматирование: **жирный**, *курсив*, `код`, списки (- / 1.), ссылки [текст](https://…) и обычные https://… в тексте.

Пока нет комментариев. Будьте первым!