33 страница1 мая 2026, 08:12

Extra Chapter: The Talkshow

DINATA Corp. sudah tak asing lagi di telinga para pembisnis. Perusahaan yang di elu-elukan. Apalagi, dengan pemimpin yang cerdas nan tampan. Siapa lagi kalau bukan seorang Ethaniel Abraham Ardinata?

        Putra dari Reynaldi Ardinata ini sudah terkenal di kalangan benua Asia, Eropa, dan Amerika. Penghasilannya? Jangan di tanya.

        Dengan otak yang cerdas, ia menanam saham dengan baik itu membuat Dinata Corp. melejit mencapai kesuksesan. Plus, parasnya yang tampan membuat ia bagaikan artis yang di idam-idamkan.

        Dan sekarang, Ethan sedang berdiri di dalam gedung pencakar langit yang di lobby utamanya terdapat tulisan nama salah satu stasiun televisi ternama.

• • •

"INI dia, guys. Bintang tamu kita hari ini! Mari kita sambut; Dancerys!!"

Vania, Claris, Shera, dan Lily masuk ke ruangan itu. "Haii semuanyaaa!!" pekik Vania melambaikan tangannya. Ia memakai celana denim hitam dengan kaus berwarna abu-abu yang di lapisi bomber jaket berwarna hitam dengan beberapa kalung. Dengan sepatu Adidas Superstar.

"Hai, Vania, Claris, Shera, dan Lily!! Silahkan duduk." pekik Jake, salah satu host acara tersebut. "Hai, Kak Jake." sapa Lily sembari duduk. "Gue nggak salah kostum kan, ya?" celetuk Vania konyol membuat Jake terkekeh. "Nggak, Van. Gue aja pake jeans sama kemeja." kata Jake.

Jess, host satunya lagi, menyeletuk, "Ya ampun, liat deh. Gue ada mereka kayak itik buruk rupa."

        "Lo emang itik buruk rupa, Jess." celetuk Jake membuat semuanya terkekeh. "Nggak lah, Kak. Kak Jess cantik kok." kekeh Shera. "Tuh, tuh, Jake, Shera aja muji gue. Masa lo enggak?"

        "Ohiya, boleh ceritain perjalanan kalian jadi bisa kayak gini?"

        Mereka memang sudah di bagikan microphone kecil yang di jepit di baju mereka. "Jadi, dulu itu, sekolah gue punya ekskul tari gitu, kan. Nah, abis itu, di tawarin lomba tingkat Internasional. Ya udah, latian tuh. Lo pernah nggak sih kerasa kayak badan mau mati rasa?" papar Vania membuat Jake mengangguk, "Sering banget gue."

        "Singkatnya, udah lomba, kan. Alhamdulillah kita menang juara tiga," Vania mengkode ke arah Shera untuk melanjutkan cerita, "Nah, kita berempat emang lebih deket satu sama lain gitu. Udah klop. Akhirnya, gue ngusulin ke mereka bertiga, gimana kalo kita buat satu grup tari? Terus mereka setuju. Tapi belum di–istilahnya apa, ya? Semacam kayak belum di realisasiin gitu, lah. Tapi kita udah ada nama waktu itu; Dancerys,"

        Lily melanjutkan, "Setelah Vania sama Claris lulus—Mereka emang adik kelas gue sama Shera, baru kita realisasiin. Abis itu, gue punya kayak jiwa pedagang gitu, kan. Gue bilang, kenapa kita nggak buat tempat les sekalian? Akhirnya mereka setuju juga. Nah, akhirnya berdirilah Dancerys Place,"

        Lalu Claris melanjutkan, "Setelah sekian lama, tiba-tiba ada yang dateng gitu ke tempat les. Bule gitu. Pertamanya gue mikir kayak, ni bule nyasar apa gimana? Cuma dia nerangin kalo dia fi sini mau nawarin lomba tari untuk Internasional—yang nyelenggarain swasta. Kita tertarik, kita terima, lah. Nah, singkatnya, kita berangkat ke mana waktu itu?" tanya Claris sedikit lupa. "Itali," jawab Vania mengoreksi.

        "Oh ya, Itali. Karena gue capek ngomong panjang-panjang, gue persingkat lagi, nih. Kita menang dan alhamdulillah dapet juara satu." papar Claris membuat semuanya tertawa.

        "Ketua di Dancerys siapa?" tanya Jess. "Lily," jawab semuanya berbarengan. "Kalo yang buat koreografi?" tanya Jess lagi. Mereka dengan serempak kembali menjawab, "Bareng."

        "Kalian boleh nari dulu nggak nih, sebelum kita ganti topik?" Vania tersenyum manis lalu menjawab mewakili semuanya, "Ofcourse. It's an honor for us."

        Lalu mereka bersiap di tempat masing-masing. Lagu Closer milik The Chainsmokers dan Halsey mengalun di seluruh studio itu. Mereka mulai melakukan gerakan sesuai koreografi.

        setelah selesai, mereka kembali ke posisi masing-masing dengan napas terengah, mereka mengambil botol minum plastik yang sudah di sediakan di meja. Semua bertepuk tangan meriah. "Alig, keren banget." kata Jake menggeleng-gelengkan kepalanya.

        Claris menambahkan, "Yang tadi, itu adalah garis besarnya tari yang kita bawain pas lomba Internasional. Nggak full, tapi garis besarnya, yaa, kayak gitu." papar Claris.

       "It's just, wow." komen Jake, lalu membaca kertas yang biasa para host bawa. Ia menyeringai saat melihat tema tersebut.

        "Shera, lo udah nikah, kan?" Shera tersenyum dengan pipi yang bersemu, "Udah, Kak. Enam bulan yang lalu." Jake bertanya lagi, "Udah punya momongan?" Binar wajah Shera meredup, "Belum, Kak. Gaes, do'a-in gue, yaaa."

        "AMIINNN."

        Vania melotot menyadari tema percakapan ini tentang cinta-cintaan.

        Jake beralih ke Lily, "Nah, ini dia yang nikah duluan. Dua tahun yang lalu ya, Ly? Anaknya umur berapa?" Lily mengangguk, "Iya, Kak. Satu setengah tahun."

        "Loh, terus, lo nitip anak lo di mana?" Lily meringis, "Di Rumah Nyokap." Dan kini giliran Jess yang bertanya, "Suami sama Nyokap lo gimana? Dukung nggak, kerjaan lo?"

        Lily tersenyum, "Dukung banget, Kak. Lilo bilang ke aku kalo dia dukung apa yang aku kerjakan selama itu benar dan nggak ngelupain tugas aku sebagai Ibu. Kalo Mama sih, bilang gini, ngutip quotes gitu, pekerjaan yang paling menyenangkan adalah hobi yang di bayar."

         "Boom! Bener banget tuh, kutipannya." celetuk Jake.

        "Kalo Claris, gimana nih, sama pacarnya??" Claris tersenyum manis, "Yaah, belum ada kemajuan. Padahal yang lain udah pada nikah—bahkan ada yang baru tunangan. Gue di sini masih pacaran." Inilah sisi Claris, sedikit frontal dan agresif.

        "Asoy. Peka woy, peka. Itu kode udah keras banget. Kode keras tingkat dewa." Jess bahkan menepuk-nepuk meja gemas. Vania tahu siapa pacar Claris. Deto. Iya, Deto. Akhirnya mereka balikan atas dasar cinta. Tadinya Claris merasa tidak enak dengan Vania. Namun Vania hanya tersenyum dan memastikan Claris, Nggak apa-apa, Clar. Kalo lo cinta sama dia, ya dapetin—seperti lo yang dulu. Lagian, gue kan cintanya sama Ethan.

        "Oh iya, Clar, lo bilang ada yang baru tunangan. Siapa, ya, guys?" tanya Jess sok nggak tau. Jake ikut ling-lung, "Siapa, sih?"

        "VANIAAAA!!!" Para Audience memekik kencang memekakkan telinga. "CIEE VANIA YANG BENTAR LAGI NIKAAHH." sorak Jake berisik.

        "Gue liat dong cincinnyaaa," Jess menarik paksa tangan kiri Vania. Tadinya Vania berusaha keras untuk menahan tangannya agar cincin itu tetap sembunyi.  Akhirnya Vania pasrah dan kamera pun me-close-up bagian jari manis Vania.

        "Iihh, so sweet banget sih tunangannya Vaniaa. Siapa sih emangnya, Van?" Vania mengerjap dengan wajah seperti kepiting rebus, "Hah?"

        "Karena Vania nggak mau jawab," pandangan Jake beralih ke arah pintu masuk, "Mari kita sambut pria idaman para ciwi-ciwi—eits, ini tunangannya Vania. Ini dia; Ethaniel Abraham Ardinataaa!!"

        Vania melotot, ia memutar badannya ke belakang. Dan ia melihat sosok pria memakai sweatshirt berwarna abu-abu dan hitam yang lengannya ia gulung sampai siku dipadukan dengan denim hitam, dan sepatu Adidas Superstar yang persis seperti milik Vania; warna dasar putih ber-list hitam.

        "Apa kabar, Broo." sapa Jake berpeluk ala pria. "Baik dong gue mah." balas Ethan dengan cengiran khas-nya.

        Jess melongo melihat ketampanan Ethan, yang ia kira tidak sampai setampan ini! "Hai, Ethan. Astaga, ganteng banget, cuy. Gue sampe gemeteran." sapa Jess sok berbisik di kalimat kedua dan ketiga padahal semuanya juga bisa denger. "Hai juga, Kak."

        "Aduuh, jangan di panggil Kak, dong." kata Jess membuat Jake menoyor dahi cewek itu, "Kalo udah tua, mah, tua aja, Jess. Ethan, duduk, Eth."

        Ethan mengambil duduk di sebelah Vania, lalu ia mengangkat telapak kakinya bagian kanan dan menumpukannya di paha bagian kiri. Bantal sofa ia taruh di atas pahanya.

        "Ya ampun, Van, tunangan lo gantengnya minta ampun. Kakak gue kan emang sering ngomongin kesuksesan seorang Ethaniel gitu kan. Tapi gue nggak tau orangnya kek gimana. Gue pernah di kasih foto Ethan, tapi perasaan nggak seganteng ini." cerocos Jess membuat Jake ingin menyumpal  mulut Jess yang mencerocos tak jelas.

        "Lupakan Jess, Eth. She's out of control," kata Jake tak peduli dengan ekspresi Jess yang melotot. Ethan hanya terkekeh, membuat dimples-nya terlihat, hal itu membuat Jess kembali menjerit.

        "Nevermind," Jake kembali ke Ethan, "Jadi, Eth, Van, kalian ketemu pertama kali karena kerjaan atau apa?" Ethan dan Vania saling pandang. Ethan tersenyum penuh arti, Vania menatapnya malu. "Cerita nggak nih?" tanya Ethan menaikkan sebelah alisnya.

        "Terserah kamu," jawab Vania membuat Ethan berdecak kesal, "Ck. Terserah, terserah. Tapi nanti marah pas aku ceritain." Vania mendorong bahu Ethan, "Berisik. Kalo mau cerita, ya cerita aja."

        "Jadi?" tanya Jake mengulang. "Kita itu high-school sweethearts," tukas Ethan. "Hah? Jadi hubungan kalian dari SMA? Langgeng banget." tanya Jess ulang. "Nggak segampang itu, sih. Jadi, sebelumnya, gue sama sekali nggak kenal Vania. Gue cuma tau dia karena satu angkatan dan satu sekolah doang. Besides, gue itu dulu culun abis. Kalo lo nggak percaya, nanti tanya sama mereka. Tapi nanti. Abis itu, gue ngubah penampilan gue, seperti kisah-kisah klise lainnya. Gue ketemu sama Vania dan berinteraksi sama dia, pas acara The Beat Up. Dia nabrak gue, waktu itu.

        "Pas pulang, gue ngebantuin dia karena ada sedikit masalah dan gue nggak berani ngebuka. Dan semenjak saat itu, gue sama dia deket."

        Vania melanjutkan, "Selang berapa bulan semenjak gue sama Ethan deket—berapa bulan, Eth? Aku lupa. Pokoknya berbulan-bulan. Ethan nembak gue. Tapi pas kita udah enam bulan pacaran. Kita putus,"

        "Putus? Kenapa?" tanya Jake membuat Ethan dan Vania tersenyum misterius, "Rahasia." jawab Vania membuat Jake mendengus.Pokoknya, masalah itu bukan masalah klise yang selingkuh atau bla-bla-nya. Setelah satu minggu putus, ada kecelakaan yang buat Ethan koma. Papanya Ethan mutusin kalo Ethan di bawa ke New York buat berobat kalau dia ada apa-apa lebih gampang,"

"Lo hancur nggak pas Ethan di bawa ke New York?" Pertanyaan yang sangat menjebak. Bagus, Jess, gue terpojok, batin Vania bersungut. "Ya–ya iyalah." jawab Vania dengan pipi bersemu membuat penonton histeris.

"Cie, yang ancur pas aku tinggalin." ledek Ethan membuat rona merah di pipi Vania bertambah.

"Nah, sebelum itu gue punya firasat kalo gue bakal koma. Jadi gue bikin video buat sahabat-sahabat gue sama Vania—"

"Isinya apaan, Van?" tanya Jake kepo. Vania menjawab, "Intinya, dia minta ke gue untuk nunggu. Karena emang posisinya pada saat itu kita udah putus. Jadi udah nggak ada hubungan apa-apa. Akhirnya gue mutusin buat nunggu dia,"

"SO SWEETT!!" pekik Jess gemas sendiri.

"Nah, gue bangun setelah enam bulan. Papa ngedaftarin gue di NYU padahal gue nggak mau tapi dia maksa. Setelah lima tahun, gue ketemu dia lagi." Ethan menutup ceritanya.

"Lima tahun? Lo nunggu lima tahun?" Jess menganga lebar. Vania mengangguk, "Iya."

"Lo tau itu lama banget? Kenapa lo yakin bahwa Vania bakal bertahan, Eth?" Ethan tersenyum kalem, melirik Vania yang menatapnya ikut penasaran, "Gue tau itu lama banget. Kenapa gue yakin Vania bertahan? Honestly, dulu, gue nggak yakin kalo dia bertahan,"

        "Kenapa?" tanya Jess heran. Ethan menjawab dengan santai, "Gue rasa gue nggak punya sesuatu yang membuat dia bertahan. Saat gue balik, gue yang emang nggak pernah baca chat Vania yang udah seribu lebih; karena gue takut kalo tiba-tiba isi chat dia, Kamu dateng dong ke nikahan aku, kan nggak lucu," semuanya tertawa. "Tapi ternyata, isi Chat terakhir dia; aku nunggu kamu. Itu yang buat gue yakin, dan nemuin dia. And I can't thank enough for that. Walaupun gue beribu-ribu kali mengucapkan terimakasih ke dia; gue bersumpah, itu nggak akan cukup."

        "Cie, cie, cie." ledek Claris melihat muka Vania yang memerah merona.

        "Kalian ketemu di mana?" tanya Jess tertarik.

        "Di reuni akbar Sekolah." jawab Vania dengan pipi merona.

        "OKEEE!! Good bye, guys. Thanks for coming. Eth, Van, jangan lupa undang gue!" kata Jake dengan heboh.

        "Sama-sama," jawab mereka semua.

         "Semoga gue undang lo, ya, Bro." jawab Ethan bangkit dari duduknya, menghampiri Jake dan bertos ala pria. Ia melepas microphone kecilnya. Lalu ia beralih pada Vania, "Ayo, berdiri," kata Ethan berdiri di hadapan Vania. "Mageerrr. Udah PW." kata Vania merajuk, capek, ia juga sudah melepas microphone-nya.

        Ethan berjongkok di hadapan Vania, membuat Vania harus menunduk melihat Ethan. "Iya, aku tau. Makanya ayuk kamu berdiri, kita pulang. Tadinya aku mau ngurus tentang pernikahan ke kamu. Tapi karena kamu capek. Nggak apa-apa deh, biar kamu istirahat. Oke?"

        Vania menggeleng, "Mau ngurus apa lagi emangnya? Aku nggak enak sama kamu. Ya udah, ak—" Vania memasang wajah bersalah.

        Ethan menggeleng, "Nggak apa-apa, sumpah. Udah, ayo kita balik." lalu ia tersenyum lembut.

        Ethan berdiri, di ikuti oleh Vania. Vania memeluk pinggang Ethan dari samping. Saat mereka berbalik, mereka melihat Jake, Jess, Lily, Shera, dan Claris menatap mereka. "Udah romantisannya? Eth, lo bikin anak orang drooling," kata Claris lempeng.

         "Oh, c'mon, siapa yang nggak mau punya calon suami kayak Ethan? Ya nggak, genks?" tanya Jess membuat semuanya berteriak, seolah mengatakan 'setuju'.

        Ethan terkekeh, "All I need is Vania in my life. So, sorry, girls." jawab Ethan, terkekeh.

A.N

The second extra-chapter! Wait the third extra-chapter, guys.

33 страница1 мая 2026, 08:12

Комментарии

0 / 5000 символов

Форматирование: **жирный**, *курсив*, `код`, списки (- / 1.), ссылки [текст](https://…) и обычные https://… в тексте.

Пока нет комментариев. Будьте первым!