Extra Chapter: The Engagement
ETHAN: Hai, sweetheart. Lagi ngapain?
Vania: Basi, Eth.
Vania: Lagi ngambek.
Ethan: ngambek kenapa, Sayang?
Vania: Ngambek sama pacar
Ethan: Loh, aku ada salah apa, sih?
Vania: Nggak.
Ethan: Terus?
Vania mendengus kesal, "Dasar nggak peka. Pacaran satu tahun lebih, nggak tau tanggal ulang tahun pacarnya."
Ya, Vania memang berulang tahun hari ini. Vania beralih pada grup yang sekarang beranggotakan sembilan orang itu.
Group Ababil (9)
Radit: Woy, lo sama Kak Arya bukannya mau meeting ya, Eth.
Ethan: Iya. Ini gue udah di kantor.
Fak, batin Vania mengumpat. Udah tau pacarnya ngambek, tapi malah kerja, gerutunya lagi. Sabar, Vania, mungkin pacar lo emang sibuk mending lo datengin dia, batin Vania berusaha menenangkan dirinya sendiri.
"Gue nggak pernah ke kantornya dia, ya, setelah gue inget-inget. Ya udah, gue ke Kantornya aja. Setelah ngecek tempat nari."
Vania mengganti bajunya dengan kaos abu-abu dan celana jeans. Ia pun mengambil tas ranselnya berwarna hitam itu, lalu memakai sepatu converse hitamnya.
"Pa, Ma, aku pergi dulu, ya." pamitnya pada orangtuanya yang sedang menikmati masa pensiun mereka. "Iya, Sayang. Hati-hati, ya. Kamu sama Mang Toto, aja."
"Oke." jawab Vania, lalu memanggil Mang Toto, supir keluarganya, untuk mengantarnya ke tempat nari yang sudah ia buka dengan Claris, Shera, dan Lily. Ya, mereka menjadi rekan kerja.
Mereka menjadi rekan kerja karena waktu itu, The D Squad, meraih juara dua nari tingkat Internasional yang di selenggarakan di Venice. Sejak saat itu, mereka berempat berencana untuk membuka sebuah tempat nari dan menamakannya Dancerys—yang merupakan nama dance group mereka. Mereka juga menjadi pelatih beberapa anak yang les di sana yang akan mengikuti lomba Internasional maupun nasional.
Nama Dancerys—tempat les itu maupun dance group beranggotakan empat orang itu, juga sudah melejit akibat mereka pernah meraih juara pertama di tingkat Internasional—yang menyelenggarakan adalah swasta. Ya, Vania, Claris, Shera, dan Lily sudah dua kali—yang pertama kali dengan The D Squad, meraih juara di tingkat Internasional.
Mereka juga sering di undang ke beberapa talkshow akibat itu. Dan pernah beberapa kali di beri kesempatan untuk tampil di sebuah acara televisi. Karena sudah mengharumkan nama Indonesia.
Setelah sampai di Dancerys Place, ia langsung turun dan menyuruh Mang Toto untuk balik ke Rumah. Ia pun masuk dan menyapa beberapa guru les dan karyawan di sana.
"Eh, Van, bilang ke yang lain, dong. Kalian di undang ke talkshow lagi, nih. Jum'at besok." kata kaki tangan Dancerys itu. Vania menaikkan sebelah alisnya, "Jum'at besok, Ry?"
Orang itu—bernama Mary, mengangguk. "Iya, Jum'at besok."
"Oh, oke. Nanti gue bilangin. Eh ya, nggak ada masalah apa-apa, kan?"
Mary menggeleng, "Nggak ada masalah apa-apa. Malah meningkat, woy." Vania hanya tersenyum, "Ya udah, gue lagi pengen nari, nih. Lagi kesel sama pacar, gue."
"Ye, ni bocah malah curcol. Masuk aja, sih." Mary menyedot cappucino yang ada di mejanya.
Vania mendengus, lalu memasuki ruang kosong yang ada di sana. Ia pun men-plug iPod-nya dengan speaker dan langsung menyalakan lagu Closer milik The Chainsmokers dan Halsey.
Iapun langsung menggerakkan tubuhnya sesuai yang ia mau. Setelah selesai, tepuk tangan terdengar. Vania menoleh ke arah pintu. Terlihat Ethan yang bersender di kusen pintu.
"Ngapain ke sini?" tanya Vania dengan napas satu-satu. Ethan menegakkan tubuhnya, menyodorkan satu botol air putih, "Kak Arya mundurin jadwal meeting-nya sebentar. Terus aku kangen sama kamu. Akhirnya aku ke sini deh."
"Kenapa kamu bisa tau kalo aku di sini?" tanya Vania mengambil dan meminumnya. "Sayang, apa kamu lupa aku ini aslinya gimana?"
Vania mendengus. Ia hampir lupa kalau Ethan adalah ahli teknologi. Bisa aja dia ngelacak iPhone-nya. "Kamu mau ke Kantor aku, nggak?"
"Ayo aja. Tadinya aku memang ke kantor kamu. Tapi di sini sebentar. Eh, kamunya nyamperin."
"Ya udah, ayo. Kak Arya udah mau nyampe."
Vania mengambil tasnya dan keluar beriringan dengan Ethan, "Eth, apa kamu bener-bener nggak inget hari ini hari apa?"
"Hari Rabu, tanggal 15 Mei. Kenapa?"
Vania mendengus. Bahkan Ethan tidak menyenggol pembicaraan hari anniv mereka yang berbeda sepuluh hari dari ulang tahun Vania.
Dan Vania berdo'a, semoga ia tidak ada yang membuatnya tambah kesal di kantor Ethan.
• • •
"SELAMAT sore, Pak." sapa karyawati tersebut centil kepada Ethan membuat Vania panas sendiri. Baru masuk kantor ini saja sudah membuat dirinya tambah kesal.
"Selamat sore, Nia." balas Ethan membuat Vania ingin menggoyang-goyangkan tubuh cowok itu sembari berteriak, Jangan bales sapaan dia, goblok. Dia itu flirting ke elo! didepan muka Ethan.
Bayangkan, Vania baru saja memasuki kantor Ethan. Gimana nggak mau naik darah? Ethan menariknya ke lift untuk ke ruangannya.
Vania melakukan in-hale lalu meng-ex-hale-nya, menenangkan diri. "Kamu kenapa, sih?"
"Nggak apa-apa." jawab Vania sedikit santai. Dirinya sudah ten—
Ting! Pintu lift terbuka.
—ang
Gimana gue bisa tenang kalo isinya cewek centil semua?!?!, pekik Vania dalam hati. Rasanya Vania ingin menutupi wajah tampan Ethan dengan tasnya. Atau menggelayuti Ethan.
Kepala Vania terasa pusing. Astaga, gue bisa darah tinggi, batinnya, sembari memijat pangkal hidungnya.
"Kamu kenapa?" tanya Ethan pada Vania membuat Vania kembali menggeleng, "Nggak apa-apa." Ethan menarik Vania ke ruangannya.
Vania sempat melirik ruangan sekretaris Ethan yang hanya di batasi kaca. Dan pakaiannya? Rok span memakai kemeja putih berbahan tipis dengan satu kancing dari atas di lepas, menampilkan sesuatu yang bisa saja membuat semua pria khilaf.
Astaghfirullah, batin Vania.
"Kamu di sini aja. Aku mau ke ruang meeting dulu. Kalo mau tidur, tidur aja di sana. I love you." Ethan mengecup dahi Vania lalu kembali keluar dari ruangannya. Ethan setiap hari bekerja dengan sekretaris seperti itu? Setiap hari?
Vania melempar tasnya ke sofa, lalu tiduran di sofa yang berukuran cukup panjang dan lebar itu. Memejamkan matanya. Lalu ia kembali bangkit, mengambil dompetnya dan iPhone-nya, dan berjalan keluar dari ruangan Ethan yang besar.
"Eh, tadi gue ngeliat cewek yang di bawa Pak Ethan. Jelek, ya?"
"Apa banget deh ceweknya. Nggak jelas."
"Kalo nggak salah dia salah satu anggota Dancerys, deh."
Vania ingin sekali mendatangi mereka dengan menggebrak meja mereka lalu berteriak dengan lantang, Lo lebih rendah daripada gue!. Tapi, ia memilih mempercepat langkahnya dan keluar dari perkarangan Dinata Corp. Berjalan ke arah Starbucks yang berada di depan kantor.
Setelah sampai, Vania memesan minuman dan menghempaskan tubuhnya di kursi yang kosong. Ia menggunakan fasilitas free WiFi yang di sediakan. Namanya di panggil membuat Vania bangkit. Mengambilnya. Dan duduk kembali.
"Eh, Kakak anggota Dancerys, kan?" tanya seseorang membuat Vania mendongak. "Eh, lo ngomong sama gue? Iya, gue anggota Dancerys." Orang itu tersenyum cerah, "Wah, Kak, aku minta tanda tangan, boleh? Aku suka koreografi Kakak." Orang itu memberikan kertas dan pulpen, Vania langsung menandatangani kertas itu dengan cepat.
"Oh ya? Makasih. Nanti gue sampein ke yang lain. Mau duduk bareng gue?" tawar Vania. Orang itu mengangguk antusias.
Mereka larut dalam obrolan seputar tari, dan Vania mengetahui nama penggemar Dancerys itu. Namanya Ira.
Namun di tengah obrolan itu, iPhone Vania bergetar. Vania melirik iPhone-nya.
Beast💕💞 calling...
Namun iPhone Vania langsung mati. Lowbatt. Nice, gue nggak bawa powerbank, batinnya.
"Ra, bentar." Vania bangkit, mengantri sebentar, memesan minuman favorit Ethan, lalu kembali duduk dan mengobrol lagi dengan Ira sembari menunggu pesanannya.
Setelah itu, namanya di panggil, membuat Vania mendekat dan mengambil minuman tersebut dan berpamit kepada Ira.
Vania menaiki lift dan saat lift terbuka, Vania keluar dari lift. Namun ia melihat Ethan yang sedang berusaha menelfon seseorang. Dasinya sudah menghilang, jasnya sudah di lepas, lengannya sudah di gulung sampai siku, dua kancing dari atas sudah ia lepas, wajahnya khawatir. Vania melirik jam yang berada di pergelangan tangannya, ia sudah keluar selama setengah jam lebih.
"Eth," panggil Vania cukup keras, membuat Ethan menoleh dan dengan satu langkah panjang, Ethan langsung memeluknya. Tanpa memperdulikan kopi yang sedang Vania bawa. Tanpa memperdulikan banyak pasang mata yang melihat hal itu. Tanpa memperdulikan karyawan yang menganga.
Vania merasa bahu Ethan merileks, Ethan menyembunyikan wajahnya di lekukan leher Vania. Sehingga Vania bisa merasakan hembusan napas lega dari hidung Ethan. "Kamu darimana aja?" tanya Ethan merenggangkan pelukannya, namun tangannya masih melingkar di bahu Vania. "Dari Starbucks. Abis, aku bosen."
"Vania, aku nyari kamu kemana-mana."
Vania mengedikkan bahu. "Kirain nggak nyariin."
Ethan mengernyit, melepaskan rangkulannya, "Maksudnya apa?"
"Pikir aja sendiri. Nih, buat kamu." jawab Vania menyodorkan gelas Starbucks yang ada di tangannya kepada Ethan. Melihat Ethan, membuat dirinya kembali kesal karena pacarnya itu tidak mengingat apa-apa tentang dirinya.
Ethan tersenyum miring menatap kepergian Vania.
• • •
VANIA membalas chat-chat ucapan ulang tahun yang di tujukan kepadanya. Fara, Risca, Deto, Claris, Elisa, Radit, dan Bian sudah memberikan ucapan ulang tahunnya. Bahkan, tujuh sahabatnya itu sudah mengucapkan dari pagi hari.
Dan orang yang di sampingnya yang sedang menyetir, yang notabene-nya adalah pacar Vania sendiri, belum mengucapkan apa-apa. Padahal ini sudah jam lima sore. Kurang rese apa?
"Van," panggil Ethan pelan. "Hm?" jawab Vania.
"Udah sampe rumah kamu." jawab Ethan turun dari mobilnya setelah mematikan mesin mobil. Vania kira Ethan bakal ke pintunya, lalu membukakan untuknya, seperti waktu dulu. Namun, Vania salah. Ethan malah menunggu di depan kap mobil.
ALLAHUAKBAR, batin Vania kesal. Ia membuka pintu secara kasar, lalu membanting pintu mobil BMW keluaran terbaru Ethan, kesal. Ethan mengekori Vania ke depan pintu utama.
Vania membuka pintu utama yang berdaun dua itu. "Assalamu'alaikum!" pekiknya menggelegar. "Wa'alaikumsalam. Wah, ada Ethan." sapa Vero yang duduk di ruang keluarga.
"Hai, Om, Tante." balas Ethan dengan senyuman penuh arti. Sedangkan Vania sudah duduk di sebelah Mamanya, sembari menggonta-ganti saluran televisi dengan wajah di tekuk.
Ting! Bel rumah berbunyi, membuat mereka saling pandangan. Vania bangkit dari duduknya, "Biar Vania aja."
Vania pun membuka pintu utama, mendapati seorang pengantar paket di hadapannya. "Kepada Mba Vaniala Aletha Ardana?" Vania mengernyit, "Iya. Saya sendiri."
Orang itu menyodorkan sebuah kotak, di atasnya tertulis nama lengkapnya dan alamat lengkap rumahnya. Vania mengernyit, bingung. Namun ia tetap mengambil paket tersebut. "Tolong tanda tangan di sini." Orang itu menyodorkan kertas dan pulpen, membuat Vania langsung membubuhkan tandatangannya di sana.
"Terimakasih." Lalu orang itu pergi dari halaman rumah Vania. Vania menutup pintu dan kembali ke ruang keluarga dan duduk di sebelah Ethan dengan memangku paket tersebut.
"Apaan tuh, Van?" tanya Vera kepo. "Vania nggak tau, Vania emang mesen Kylie Lipkit, tapi baru kemaren. Masa, udah dateng?" kata Vania menatap kedua orangtuanya heran, lalu teralih ke Ethan yang sedang menatap iPad-nya. Pandangan cewek itu kembali jatuh kepada paket yang ada di pangkuannya.
Tangan Vania bergerak membuka kardus yang melapisi paket tersebut, lalu membuka bubble wrap, dan terlihat lah, kotak berwarna putih polos.
Vania membuka kotak tersebut, lalu terlihat sebuah kotak lagi. Vania mengenal kotak tersebut. Kotak cincin.
Ia menatap Ethan sekilas, yang masih fokus pada iPad-nya. Tangan Vania mengambil kotak cincin dengan tangan bergetar dan membukanya.
Vania menutup mulutnya dengan tangannya yeng bebas.
"Ehem," deham seseorang mengintrupsi pandangan seluruh orang yang ada di ruangan tersebut, "Jadi," Ethan bangkit dari duduknya, lalu berlutut di hadapan Vania, "Kamu udah tau intinya. Will you marry me? Kalo kamu terima aku, ambil cincin itu dan pasang ke jari kamu. Kalo kamu nggak terima, kamu kasih cincin itu ke aku." kata Ethan, di hadapan kedua orangtua Vania.
Vania melepas cincin itu dan memberikannya ke Ethan, membuat air muka Ethan terlihat kecewa, namun menerima cincin itu. "Aku nggak bisa," jawab Vania.
"Kenapa?" jawab Ethan menatap cincin yang ada di tangannya. "Aku nggak bisa masang cincin itu ke jari manis aku," Vania bangkit dari duduknya, menjulurkan tangannya, membantu Ethan untuk berdiri, membuat Ethan mendongak dan menerima uluran tangan Vania.
Lalu Vania memeluk Ethan, membuat Ethan kaget, "Jadi..., kamu yang pasangin cincin itu ke jari manis aku."
Kata-kata Vania membuat senyum kembali terbit di bibir Ethan. Laki-laki itu melepas pelukan mereka, lalu memasangkan cincin itu ke jari manis sebelah kiri Vania.
"To make it clearly, what's your answer?" tanya Ethan lagi untuk mempertegas. "I will." jawab Vania membuat Ethan langsung memeluknya.
"By the way, happy birthday, Van." bisik Ethan di depan telinga Vania, membuat Vania menitikkan airmatanya dan tersenyum. "This is the best gift ever." gumamnya yang dapat Ethan dengar.
"EHM, ADIK GUE MAU NYUSUL GUE, EUY!" pekik seseorang membuat mereka sontak melonggarkan pelukannya. Arsen di sana yang merangkul Aira dengan perut buncitnya.
"Gas terus, Eth!" pekik Bian muncul dari balik tangga.
"Dia curhat sama gue, bete plus ngambek sama lo gara-gara nggak lo ngucapin selamat ulangtahun ke dia. HAHAHAHA." kata Elisa tiba-tiba muncul dari balik guci yang cukup besar.
"AWW!" pekikan tersebut terdengar dari tangga membuat semua teralih ke sumber suara. Radit muncul sembari memegang handycam, "Halo semua! Eth, lo harus berterimakasih sama gue karena udah ngevideoin ini semua. Lo nggak bilang ke gue kalo mau di video." Lalu muncul Deto, Claris, Fara, dan Risca di belakang Radit.
Ethan menepuk dahinya, "Oh iya, makasih ya, Dit. Gue lupa minta ke—"
"Wait a sec," balas Vania memotong percakapan yang dia tidak tau apa maksudnya, "Maksud kalian apa?"
Ethan cengengesan, menyuruh semuanya untuk duduk.
"Jadi gini...,"
Flashback ON
"Gue mau ngelamar Vania. Tapi gimana caranya, ya?" kata Ethan sembari mengetuk-ngetukkan jarinya di meja kantor. Akhirnya, ia menelepon sahabatnya dan adiknya—kecuali Vania, tentunya.
"Yoo, what's up? Kenapa manggil?" tanya Radit dan Bian saat sampai di ruangan Ethan. "Bentar, tunggu yang lain." kata Ethan, duduk di sofa yang di sediakan untuk klien-kliennya.
Setelah semua sampai, Ethan membuka percakapan. "Gue mau ngelamar Vania. Cincin udah siap. Tinggal gimana gue nyampeinnya. Dan gue bingung. So, anyone have an idea?"
"Vania ulang tahun tanggal 15 Mei. Lo ngelamar di hari itu aja. Jadi, lo pura-pura nggak tau." kata Fara membuat Ethan mengangguk. "Gue pake cara lo."
"Gimana kalo, gue ngelamar dia di depan orangtuanya? Jadi, gue nganter dia pulang ke rumah, terus gue lamar deh di sana." lanjut Ethan.
"Gini, Eth. Gimana kalo sekretaris lo itu—yang sopan, lo suruh pake baju minim?" kata Radit, "Jadinya kan, Vania keki karena ngebayangin elo sama sekretaris lo itu. Tapi, cuma pake minim doang, nggak ngapa-ngapain."
Ethan mengangguk semangat, "Bisa jadi."
Ethan menghubungi sekretarisnya untuk ke ruangannya, ia menjelaskan dari awal sampai akhir. "Jadi, Win, kamu bisa bantu saya ngelancarin rencana saya?" Windy, nama sekretarisnya yang memakai kemeja berlengan panjang dan rok span yang sedikit longgar, berpikir sebentar.
"Eum, tapi, sebentar aja, kan, Pak? Saya nggak suka kalo pake baju terlalu ketat, soalnya." kata Windy membuat Ethan mengangguk, "Iya. Sebentar doang, kok."
"Ya sudah, saya bantu."
Flashback OFF
"Jadi ini rencana kalian?!"
Pekikan Vania membuat semua menutup telinga. "Iya," jawab mereka serempak. "Allahuakbar, Ethan, aku telah berdosa."
"Hah?"
"Iya. Aku selama di kantormu. Setelah ngelirik sekretarismu yang keliatan bitchy abis. Langsung mikir yang enggak-enggak. Kamu sering berinteraksi sama dia. Kalo karyawan yang lain mah, aku bodo amat. Apalagi, karyawan kamu isinya cewek semua." cerocos Vania membuat semuanya ngakak.
"Dia sopan, Van. Dia bukan tipe-tipe yang ngegodain aku. Lagian, dia punya pacar, tau. Pacarnya karyawan aku juga. Aku juga ngejelasin ke pacarnya, kalo ini cuma buat ngelancarin rencana aku."
Rey duduk di sebelah Vero, "Jadi, kita besanan, nih?" Vero menoleh dan terkekeh, "Iya. Keren banget gue besanan sama mantan ketua ASA. Terus menantuan sama ketua ASA dan CEO Dinata Corp.."
Obrolan mereka terintrupsi karena iPhone Ethan berbunyi. Ethan melirik ID caller-nya, dan lansung mengangkat. "Yap. Ada apa?... hah, kok bisa?... iya nanti gue urus... sip." Ethan memutuskan teleponnya.
Ethan beralih pada Rey, "Program ASA ada yang kena virus, dari negara lain."
Ethan menatap Vero, "Om, aku boleh kerja di sini. Sebentar, mungkin." Vero dengan antusias mengangguk. Ethan tersenyum, keluar untuk mengambil MacBook-nya dan interface portable.
"Sebentar ya," balas Ethan, lalu membuka MacBooknya. Rey mendekat kepada putranya. Semua berangsut mendekat, melihat. "Nggak bisa masuk. Dari MacBook nggak bisa masuk." gumam Ethan. "Pake interface, Eth." celetuk Radit.
"Gue juga tau," Ethan beralih ke Vero, "Boleh kan, Om?" Vero mengangguk, "Boleh, Ethan. Om juga penasaran."
Ethan menyalakan interface portable-nya yang berbentuk batang berwarna hitam, seakan menjadi hologram ia seperti menembak sesuatu ke udara yang berbentuk layar interface.
Sesekali mata Ethan melirik ke MacBook-nya. Tangan Ethan mengutak-atik interface itu, dan langsung terhubungi ke program setelah membaca kode-kode yang cukup rumit.
Kode-kode yang tidak bisa di baca orang awam, namun di mengerti orang seperti Ethan, Rey, Radit, dan Bian. Ethan memecahkan dengan gampang. Lalu ia melihat virus-virus yang ada di program tersebut. Lantas, Ethan langsung mematikan virus tersebut dari programnya setelah membaca kode, lagi.
Namun bukannya menurup interface, Ethan malah membuka tab lain. Hal itu membuat Rey mengernyit, "Kamu ngapain?"
"Buat virus," jawab Ethan singkat. "Buat apa?" tanya Rey lagi. "Kalo aku nggak nambahin virus pelindung di program. Kemungkinan besar, orang itu bakal nyebar virus lagi. Percuma aku ngotak-ngatik kayak gini kalo ujung-ujungnya kayak gini lagi."
Setelah lima menit, virus pelindung di program itu bertambah.
"Selesai!" kata Ethan ceria, menutup MacBooknya dan interface portablenya.
"Ethan," panggil Vero setelah Ethan selesai, "IQ kamu berapa?" tanya Vero hati-hati.
"IQ?" beo Ethan, berpikir sebentar, "Kalo nggak salah, 160-an."
Aira, yang tidak pernah bertemu dengan Ethan, menganga, "Jenius." gumamnya. "Makasih, Kak. Tapi gue masih bego, kok." jawab Ethan.
"Oh iya, kalian mau nikah kapan?" pertanyaan Vera membuat Ethan dan Vania saling pandang. "Bentar, Tan." Lalu Ethan memutar tubuhnya sembilan puluh derajat ke arah Vania, begitu juga sebaliknya. Mereka memang duduk di karpet sedari tadi.
Ethan mendekatkan tubuhnya ke arah Vania sampai kedua lutut mereka bertemu, seakan omongan ini hanya mereka berdua yang dengar.
"Aku udah nanya undangan, dan ada beberapa contoh di apartment." kata Ethan pelan sembari memangku dagu dengan siku berada di paha. "Gaun?" tanya Vania ikut memangku dagu dengan siku di paha. Ethan berpikir sebentar, "Kalo itu, aku ada temen yang istrinya punya D'Ert."
Vania melotot, "Ethan, gaun-gaun di D'Ert itu mahal-mahal."
Ethan mengulum senyum, "Biarin. Apa sih, yang nggak buat kamu?"
Vania menoyor dahi Ethan dengan tangan yang bebas, sembari menahan senyumnya dengan pipi yang merona, "Gombal."
"Hmph," Ethan menahan tawanya. Membuat Vania semakin memerah, "Ethan, udah, ah. Jangan di ketawain." rengek Vania menepuk-nepuk paha Ethan kesal. "Oke, oke. Kapan?" kata Ethan sembari menggenggam tangan Vania yang bebas.
"Kamu mau kapan?" tanya Vania balik menatap genggaman tangan mereka. "Bulan depan? Mau?" tawar Ethan.
"Tanggal 25, ya?" kata Vania menatap tepat di manik mata hitam legam Ethan, membuat Ethan mengernyit. "Kenapa harus tanggal 25?"
"Anniv kita tanggal 25. Terus, aku ultah tanggal 15, kamu ultah tanggal 10. Kalo di tambah, jadi 25. Keren, ya?" Ethan terkekeh, "Oke, oke. Tanggal 25." Mereka beralih ke arah Vero, Vera, Rey, dan Rayna.
"Tanggal 25 Juni."
A.N
Nah, ini extra chap-nya. Jangan lupa vote and comment!
