19: Anakbuahnya Ivar? Siapa?
ETHAN memasuki rumahnya dengan rasa sukacita. Ia bahagia. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya saat kembali dari rumah Vania. Namun saat masuk ke rumah, ia mendapati Papanya yang sedang berkumpul dengan Elisa, Bian, dan Radit. "Papa?"
"Kamu sudah pulang, Eth. Ada yang Papa ingin bicarakan ke kamu, lebih tepatnya kalian. Ini cukup berbahaya. Kita berkumpul di Ruang Rahasia, ya. Ganti dulu baju kamu, Eth." Ethan mengangguk patuh, melangkahkan kakinya ke anaktangga. Tumben Papa nggak nyuruh gue buat ke Kantor. Apaan nih? Ada apa lagi?, batinnya.
Sesudahnya, ia langsung mendekati lemari tua dan menarik salah satu buku tebal kusam itu. Lalu melakukan prosedur seperti biasa dan akhirnya ia bisa masuk ke Ruang Rahasia.
Reynold, Radit, Bian, dan Elisa sudah berkumpul di dalam. Berdiri melingkari interface 3D tembus pandang yang seperti hologram. "Ada apa, Pa?"
"Begini, Eth. Papa yakin dengan ketidakmunculan tanda-tanda Ivar lagi, membuat dia sudah lelah dengan ini semua, kan?" Ethan mengedikkan bahunya, "Aku nggak pernah mikir begitu. Malah aku mikir pola dari rencana Ivar atau anakbuah Ivar itu."
"Bagus. Karena anakbuah Ivar itu di sekolah kamu, Eth, Wirajaya." Pandangan Radit, Bian, dan Ethan sama-sama bertumbuk pada Elisa yang sudah menegang. "El, are you okay?" tanya Ethan menyentuh pundak adiknya itu. "I'm fine. Don't worry. Gue bisa jagadiri. Yang paling penting, Vania, Eth. Fara, Risca, temen-temen juga. Gimana?"
Ethan menggeleng lemah. Reynold—panggil aja Rey, tersenyum kalem menatap anaknya itu. "Papa tau kamu cinta sama dia, Eth. Tapi jangan membuat ini menjadi sulit karena cinta. Kamu harus profesional." Ethan mengangguk, "Iya, Pa. Lagian, aku nggak cinta sama dia, kok."
"Well, your eyes can't lie," kata Rey dengan nada tenang. Ethan mendengus. "Kamu cari anakbuahnya Ivar. Ivar bisa kapan aja ngehubungin dia, nyuruh bunuh siapa aja, atau nyuruh langsung ngehadepin kamu, Eth. Papa tekankan sekali lagi, kapan aja. Dan kamu harus siap. Papa mau kamu rutin latihan fisik. Begitupun juga kalian berdua," Rey memandang Bian dan Radit. Ia beralih menatap Elisa, "Kamu harus pulang sama Ethan, atau Radit, atau Bian. Tiga pilihan. Dan kalian bertiga, harus jagain teman-teman kalian. Mengerti?"
Semua serempak mengangguk. Rey nyengir. "Oke kalo begitu. ETHANIEL KAMU ABIS NGE-DATE, YA?" pekik Rey membuat Ethan meringis. Baru saja serius, detik kemudian udah heboh. "Nggak nge-date, Pa. Jalan-jalan aja."
"Berdua?" tanya Rey lagi. Ethan mengangguk. Rey mendengus, "Sama aja, Anak Papa yang pinternya kebangetan."
"Beda, Pa. Beda." kata Ethan kekeuh. Mereka keluar dari Ruang Rahasia menuju Ruang Keluarga. "Ya udah lah, terserah. Eh, kamu di teror lagi sama Ivar?" Ethan mengedikkan bahunya, "Belum, tuh."
Tiba-tiba, iPhone-nya bergetar. Ia melihat dari tampilan lockscreen-nya. Tulisan Lelaki Bgst tertampil di sana. "Nah, nah, kan. Papa sih, bilangnya begitu. Jadi nge-SMS lagi kan, dia."
Rey terlihat tak terima. "Kenapa Papa, sih?" Ethan menatap Papanya konyol, lalu nyengir, "Kan do'a orangtua selalu di jabah sama Allah, Pa." Rey menampilkan tampang tak terima, "Emang aku orangtuamu? Emang kamu anakku?" tanya Rey sok polos. "Wah, parah nih, Papa. Ck ck ck. Menasia, ya?" ledeknya.
"Amnesia, goblok." ralat Radit mengutak-atik remot TV. Rey membulatkan matanya, "Dasar anak durhaka! Masa kamu do'a-in Papa kamu amnesia?"
Ethan yang sedang fokus pada iPhone-nya menoleh, menatao Rey polos, "Emang kamu Papa aku?" Ia mengedip-ngedipkan kedua matanya lucu. Rey mendengus, "Sialan. Ngebales dia." gumamnya. "Iya, Nak. Aku Papa kamu. Aku Papamu." kata Rey seperti di sinetron-sinetron. Ethan menatap Rey sok berbinar-binar senang, "Papaaa."
Bian memutar bolamatanya malas, "Allahuakbar, sinetron banget. Njis." Ethan langsung menetralkan ekspresinya, "Ha. Receh banget kita, Pa."
Ethan teringat dengan SMS yang di kirim oleh Ivar.
Aku yakin pasti kamu kangen SMSku ini. Yah, aku belum nyuruh anakbuahku buat bunuh temen-temenmu lagi. Ohya, selamat bersenang-senang selama aku belum bergerak.
Ethan mendengus. Hell please, siapa yang ngangenin SMS lo coba. Najis, batin Ethan malas. IPhone-nya kembali bergetar tanda ada pesan masuk. Ia memang sempat me-Line ke Vania perihal keluarganya.
Vania: Yha, masa gue langsung di introgasi sama Nyokap gue, Eth. Sialan emang.
Ethan: HAHAHA. Mpus. Ya udah, tidur sana, udah jam segini. Besok gue jemput, ya.
Vania: Siap, Bos!
Ethan mengulum senyumnya. "Jadi, siapa yang buat kamu senyum-senyum?" Ethan menoleh ke arah Rey yang menatapnya meneliti. "Ha? Temen kok, Pa."
"Temen? Temen apa temen?" ledek Bian melirik Ethan jail, sementara Ethan melotot ke arahnya. Ethan hanya bisa sok fokus pada TV di hadapannya. Pertanyaan menggelayuti pikirannya. "Temen apa temennya dari temen temennya temen?" kata Radit membuat semua pusing. Ia pun berakhir dengan timpukan bantal yang berasal dari Ethan.
Siapa anakbuah Ivar? Guru atau murid? Gimana gue ngelindungin orang yang lebih dari seratus itu? Gimana kalo ketauan? Gimana kalo Ivar tiba-tiba ngerangsek di Sekolah? Gimana, gimana, dan gimana?
• • •
A.N
Ha, nggak kerasa udah chapter 20 aja. Lolz. Don't forget to tap the star and comment.
