21 страница1 мая 2026, 08:12

20: Am I in Love With You?

ETHAN mengendarai mobilnya ke Sekolah. Di sampingnya sudah ada Vania yang duduk, sesekali bersenandung mengikuti lagu yang mengalun dari radio. Ia tersenyum saat mengingat kejadian di rumah Vania tadi.

        Ethan mengetuk pintu kayu cokelat tua di hadapannya. Pada saat ketukan ke lima, pintu terbuka dan menunjukkan Vera dengan piyamanya. "Ya ampun, rezeki anak sholehah. Pagi-pagi udah ada yang bikin mata seger. Masuk, Eth." Ethan menyalimi Vera terlebih dahulu.

        "Mau ngapain ke sini, Eth?" tanya Vera ramah. "Mau nganter Vania ke Sekolah, Tan." Vera lansung memekik memanggil Vania Arsen yang tengah duduk di ruang tamu karena menunggu Vania pun mengernyit, "Vania berangkat bareng elo?" Ethan mengangguk, "Iya, Kak. Kenapa?" Arsen yang mendengar itu langsung menyambar kunci mobil yang di taruh di meja dan bangkit dari duduknya.

        "Elah, kalo gitu gue udah berangkat daritadi. Vania nggak bilang kalo berangkat bareng elo soalnya." Ethan manggut-manggut. "Oke. Hati-hati, Kak."

        "Yoee."

        "VANIA! KAMU LAMA BANGET SIH! ETHAN UDAH DI BAWAH!" Lalu terdengar suara derap kaki yang cepat. Ethan mendengarnya. "Iya, Ma. Iya. Lho, Ethan? Kakak mana?"

        Ethan mendengus, menatao Vania geli, "Gue kan udah bilang sama lo kemaren kalo gue bakal nganter lo. Lo lupa? Kak Arsen udah berangkat ke Kampus."

        Vania menepuk dahinya, "Oh iya, lupa. Hehe. Ya udah, Ma. Aku berangkat dulu, ya." Vera mengangguk. "Bawa mobilnya hati-hati ya, Eth."

        "Sip, Tan."

        Mobil Ethan sudah sampai di tempat parkir SMA Wirajaya. "Lo hari ini ada latihan, nggak?" tanya Ethan. Vania menggeleng, "Enggak sih, kayaknya. Kenapa emang?"

        "Lo mulai sekarang gue anter-jemput, ya?" ada nada kecemasan di perkataan Ethan. "Hah? Gue bisa sendiri kali, Eth. Emang kenapa sih? Tumben banget." Ini bukan bahas tumben-tumbenan, Van. Tapi keselamatan lo, batin Ethan memekik.

        "Nggak apa-apa. Pengen aja. Mau, kan?" tanya Ethan penuh harap. Vania mengangguk, "Iya, Eth. Iya."

        Ethan menghela napas lega. Vania menatap Ethan lekat-lekat. Ni anak kenapa? Ada yang dia sembunyiin, nih, batinnya.

        "Ada yang lo sembunyiin ya, Eth?" tanya Vania. Ethan menatap Vania kaget, "Oh, enggak kok, enggak ada."

       Vania memicingkan matanya. Ia menghela napas, "Oke kalo gitu. Gue duluan." Vania berjalan masuk ke lobby sekolah. Pasti ada yang dia sembunyiin, batin Vania.

        Maaf, Van. Banyak yang gue sembunyiin. Banyak, batin Ethan.

• • •

ETHAN memutar-mutarkan pulpen di tangannya. Ia masih teringat ucapan Radit saat ia masuk ke Kelas tadi pagi.

         "Kayaknya lo cinta sama dia, Eth. Oh, bukan kayaknya. Lo cinta sama dia." Ethan menggeram. Kenapa banyak yang bilang kayak gitu? Apa emang gue cinta sama Vania? Ini makin susah, batinnya. Tapi kalo emang gue nggak cinta sama dia. Gue nggak bisa ngasih dia janji apa-apa.

        "Sialan." pekiknya tertahan, bangkit dari duduknya dan keluar kelas. Pandangannya meneliti orang yang berlalu-lalang satu-satu. Nggak ada yang mencurigakan, semuanya biasa aja, batinnya.

         "Eth!"

        Yang di panggil menoleh. Radit dan Bian. "Kenapa?"

        "Wisnu, di toilet cowok, deket Kantin." kata Bian singkat, padat, dan jelas. Ethan langsung bergerak cepat ke toilet cowok. Ternyata di sana sudah banyak yang mengerubuni. Mereka saling bersitatap, "Polanya. Pola yang di bilang Elisa."

        "Sialan, dia berusaha ngerecokin gue." Ethan menerobos masuk. Ia menapakkan kakinya di toilet cowok dan melihat Wisnu sudah tersayat. Lalu iPhone-nya bergetar.

From: Lelaki Bgst

As you see, aku bermain-main dengan pikiranmu. Di saat kamu yakin polaku, aku merubahnya. Aku sengaja. Kamu sudah mengenalku, aku penganut anti-mainstream. Aku memberikan spoiler kepadamu, aku akan bermain-main denganmu dan orang terdekatmu sebentar. Lalu baru ke acara inti; membunuhmu.

        Ethan memberikan iPhone-nya kepada Bian, dan di oper ke Radit. "I know, right? Dia gila." kata Ethan.

        "Telfon Polisi, cepet!" Ethan mengetik dengan cepat. Dan menjauh dari kerumunan, memunggungi kerumunan.

To: Lelaki Bgst

Oke. Tapi jangan cepet-cepet.

        Ethan menghela napas.

From: Lelaki Bgst

Aku tau kamu pasti bilang begitu. Tidak akan cepat-cepat. Aku juga butuh persiapan. Maksudku, kita; aku dan anakbuahku.

        Vania menatap punggung Ethan dari jauh, menatap punggung itu nanar. Siapa elo sebenernya, Eth? Apa yang Fara bilang itu bener? Apa gue cinta sama lo?

• • •

"LO?! Ethan, lo gila!" teriak Elisa kalut. "Gue lakuin ini buat kalian selamat, El. Gue—"

        "ETHAN! Lo tau Ivar itu sekali nyerbu bener-bener mateng dan telak! Lo–lo–argh!" Elisa tak mampu berkata-kata lagi. Ia tak sanggup.

        "El, please! Ini urusan gue—"

        "Gue nggak tau apa yang di otak lo sekarang, Eth! Iya, ini urusan lo. Tapi apa urusan lo, berarti urusan gue, Bian, Radit juga, kan? Dan lo bilang nggak mau di back-up? LO NYARI MATI? HA?" sentak Elisa lagi. "Gue nggak bakal mati, El. Lo tau gue." Elisa menggeleng-gelengkan kepalanya, menghilangkan bayangan-bayangan negatif yang menggelayut di benaknya.

        "Oh, astaga." gumamnya, mendongak agar airmata tidak jatuh dari kelopak matanya. Menenangkan dirinya sesaat. "Lo...," Elisa mengusap wajahnya gusar, "Oke. Jaga diri lo baik-baik, Eth. Simpen pistol lo di mobil, cadangan peluru juga. Radit sama Bian turun tangan ngebantu lo, oke?–No, jangan nyela gue," potong Elisa saat melihat Ethan membuka mulutnya, "Di detik-detik terakhir. Please, Eth. Lo nggak akan bisa. Gue bukan pesimis, tapi gue realistis."

        Ethan menghela napas, "Oke. Urusan Ivar dan anakbuahnya biar gue." Elisa mengangguk puas, "Bagus."

        "Dan Vania, cepat atau lambat dia pasti tau, Eth." Ethan membeku, menatap adiknya yang menaiki anak tangga.

        "Jadi?" Radit dan Bian yang sedaei tadi diam mulai bersuara. "Kalian nggak full back-up-in gue. Siapin pistol aja. Sama earphone wireless mini seperti biasa."

        "Sip, lah."

        "Jadi, gimana pertanyaan gue tadi pagi, Eth?" Ethan menoleh ke arah Radit, "Pertanyaan apa?" tanyanya polos. Radit dan Bian mendengus, "Jangan pura-pura bego. Gue tau daya ingat lo nggak buruk-buruk amat." timpal Bian. Ethan nyengir, namun wajahnya menjadi sendu.

        "Kayaknya..., gue belum tau pasti..., tapi kayaknya I am in love with her."

• • •

FARA: Jadi gimana? Apa yang gue bilang tadi?

Risca: Oh, yang Vania cinta sama doi apa nggak?

Fara: Yap.

Vania: Kalian kalo ngomongin orang jangan di grup, dong.

Risca: Jawab dong, Van. Penasaran gue.

Fara: Jawab dong, Van. Penasaran gue(2)

Risca: Dih, nggak kreatif lu.

Fara: Bodo amat.

Vania: Kayaknya...
Vania: kayaknya loh, ya. Gue belom tau pasti. Tapi kayaknya gue cinta sama dia.
Vania: Tapi gue rasa ada yang dia sembunyiin.

Elisa: Wayolooo, ada yang omongin kembaran gue, ni ye. Waw, Van, lo cinta ama kembaran gue? Waw waw.

        Vania membelalak kaget. Ia lupa bahwa Elisa sudah masuk kedalam grup mereka. Sialan, malu banget gue, batinnya.

Vania: Anjrit, lupa gue ada lo, El.
Vania: Jangan comel, ya.

        Hari itu, mereka sadar perasaan mereka masing-masing. Namun Ethan sadar, mereka mungkin tidak di takdirkan untuk bersama.

• • •

A.N

Gue lagi ngejar buat nyelesein ini cerita. Jadi, bersyukur untuk itu, oke? Don't forget to tap the star and comment!

21 страница1 мая 2026, 08:12

Комментарии

0 / 5000 символов

Форматирование: **жирный**, *курсив*, `код`, списки (- / 1.), ссылки [текст](https://…) и обычные https://… в тексте.

Пока нет комментариев. Будьте первым!