7
𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐯𝐨𝐭𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚𝐚... 𝐒𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚.
(づ ̄ ³ ̄)づ

♛┈⛧┈┈•༶♡✾♡༶•┈┈⛧┈♛
Saat mentari pagi baru saja menembus sela pepohonan di lembah Eltora, sinarnya menembus embun yang menempel di dedaunan, menciptakan kilau lembut di seluruh permukaan tanah yang basah. Udara pagi sejuk, membawa aroma tanah basah bercampur wangi kayu pinus, menenangkan namun juga menegaskan bahwa hari baru dimulai dengan beratnya beban.
Di sebuah rumah kecil yang berdiri kokoh di bawah pohon besar, suara dentingan logam berdenting berirama dari bengkel yang hangat. Asap tipis mengepul dari cerobong batu, bercampur aroma besi panas dan sihir mentah yang baru ditempa. Cahaya pagi memantul pada embun di rumput, menciptakan kontras yang indah dengan bara menyala di dalam bengkel.
Di dalam, Tuan Iron Ginger berdiri dengan punggung sedikit membungkuk, keringat membasahi pelipisnya. Palu besarnya terangkat untuk terakhir kalinya, otot-otot lengannya bergetar karena kelelahan yang terakumulasi selama semalaman penuh kerja keras.
Ia telah menempuh malam tanpa henti, memadukan logam pilihan dengan serpihan batu Aetheria yang dibawa Miamor dan Myuran dari gua. Setiap hentakan palu bukan sekadar membentuk logam, tetapi mengikat sihir ke dalam bentuk nyata, membuat setiap senjata memiliki nyawa dan kekuatan yang tersembunyi.
Dengan satu hentakan terakhir, palu itu dijatuhkan. Iron Ginger menghembuskan napas panjang. Tubuhnya terasa berat, namun matanya berbinar puas.
"Huuffhh… selesai sudah," gumamnya serak, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri. "Tiga senjata magis seperti yang kalian minta."
Di atas meja batu, tiga senjata tergeletak berdampingan. Udara di sekelilingnya bergetar halus, seakan merasakan energi yang baru saja terbentuk. Pedang es milik Miamor memancarkan cahaya biru kristal, dinginnya terasa bahkan dari kejauhan, seperti menyimpan musim dingin abadi di dalam bilahnya. Uap tipis membeku di udara saat cahaya pagi menyentuhnya, menciptakan serpihan salju mini yang menari di udara.
Pedang air milik Myuran tampak hidup. Permukaannya beriak seperti aliran sungai yang tak pernah berhenti, cahaya birunya lembut namun dalam, menyembunyikan kekuatan arus deras yang siap dilepaskan kapan pun.
Busur sihir untuk Cellestial ramping dan anggun, dihiasi permata merah muda di tengahnya yang berdenyut lembut seperti jantung. Ukirannya halus, membentuk motif sayap dan awan, seakan dibuat khusus mengikuti takdirnya. Setiap kali sinar pagi menyentuh busur itu, cahaya memantul membentuk bayangan kecil di dinding batu, seolah menyambut pemiliknya dengan harapan dan tantangan sekaligus.
Miamor mendekat perlahan, senyum kecil terukir di wajahnya yang letih namun penuh kelegaan. "Akhirnya… senjata ini siap," ucapnya pelan, hampir berbisik seolah tak ingin mengganggu suasana hangat bengkel.
Namun senyum itu segera memudar. Tangannya ragu-ragu menyentuh gagang pedang es, gemetar sedikit karena ketidakyakinan. "Aku… aku belum pernah menggunakan pedang sebelumnya," bisiknya, suaranya hampir tenggelam di antara dentingan logam di sekelilingnya.
Myuran terkekeh ringan, menepuk bahu Miamor dengan santai. "Kalau begitu, hari ini kau belajar. Tak perlu teknik rumit. Pedang ini akan mengikuti niatmu," ujarnya, matanya bersinar penuh keyakinan.
Mereka menghabiskan pagi dengan latihan sederhana di halaman belakang rumah Iron Ginger. Tanah rata, dikelilingi bunga liar dan pohon tua dengan daun yang berdesir lembut. Myuran menunjukkan posisi kaki yang stabil, bagaimana menyeimbangkan tubuh, dan cara membiarkan napas mengalir seirama dengan gerakan.
Saat Miamor mengayunkan pedang terlalu kaku, kristal es di bilahnya retak halus. Namun ketika ia mulai bergerak lebih tenang, mengikuti alur alami tubuhnya, pedang itu memancarkan cahaya biru lebih terang. Serpihan salju kecil berputar lembut di sekitarnya, menimbulkan keindahan magis yang membuat Myuran tersenyum bangga.
"Lihat?" katanya. "Ia tidak butuh kekuatan. Ia butuh kejelasan hati."
Sementara itu, jauh dari lembah Eltora, suasana berbeda menyelimuti Kerajaan Manusia. Cellestial terbangun oleh dentuman genderang perang yang menggema hingga dinding kamarnya bergetar. Suara itu menembus ke dadanya, membuatnya terhentak. Ia berlari ke balkon dan tertegun.
Halaman istana dipenuhi pasukan kavaleri berkuda, pemanah elit, dan kesatria sihir dalam barisan rapi. Panji kerajaan berkibar gagah, namun ketegangan menyelimuti setiap wajah.
Ketakutan mencengkeram dadanya. "Tidak… perang ini benar-benar terjadi," bisiknya. Ia tahu kemarahan ayahnya tak akan mudah dipadamkan. Tanpa menunggu izin siapa pun, ia mengenakan jubahnya, menuntun kuda putihnya, dan meninggalkan istana. Tekad mengalahkan rasa takut di matanya. Ia tak ingin perang ini terjadi karena dirinya.
Di waktu yang hampir bersamaan, di Desa Elf, Roslyn berdiri tegak di hadapan pasukannya. Cahaya hijau sihir alam berkilau di udara, membentuk lapisan perlindungan di antara pepohonan.
Pemanah telah siap di menara kayu, dan para penyihir menyiapkan mantra yang menyatu dengan akar-akar hutan. Amarah dan luka lama terpancar di wajah sang pemimpin.
"Hari ini kita tidak mundur," ucapnya dengan suara tegas, membuat sorak pasukan elf bergema, menyatu dengan desir hutan yang tegang.
Kembali ke rumah Iron Ginger, suasana damai pagi itu hancur ketika pintu terbuka keras. Cellestial muncul, napasnya terengah, wajahnya pucat.
"Pasukan manusia sudah bergerak," katanya cepat, hampir gemetar. "Perang akan dimulai."
Darah Miamor serasa membeku. Sebelum mereka bergerak, matanya tertuju pada sudut ruangan. Kotak dedaunan tempat telur biru keemasan disimpan… kosong. Cangkang telur pecah berserakan.
Jantungnya berdebar keras. "Telurnya… hilang."
Mereka mencari panik, hingga suara lirih terdengar dari arah tungku api, hangat namun asing.
"ggrrrgrr……"
Dari nyala api, seekor makhluk kecil merangkak keluar. Seekor naga mungil berwarna biru, bertanduk emas, dengan ujung ekor yang menyala lembut. Sisiknya berkilau seperti permukaan laut di bawah matahari.
Semua terdiam. Makhluk itu mengepakkan sayapnya, lalu melingkar di kaki Cellestial, menatapnya dengan mata cerah penuh rasa ingin tahu.
Cellestial berlutut perlahan, senyumnya muncul tanpa sadar. "Kau… lahir." Ia menyentuh kepala naga kecil itu dengan lembut. "Boleh aku memanggilmu Dragonair?"
Api biru kecil menyembur dari mulut naga itu, seolah menjawab.
Tak ada waktu lama untuk kagum. Mereka berpamitan singkat dengan Iron Ginger dan berlari menuju perbatasan hutan.
Namun saat mereka tiba… dunia seakan runtuh. Medan perang terbentang luas. Panah api melesat di udara, mantra menghantam tanah, dan teriakan bercampur ledakan mengguncang hutan. Langit cerah berubah kelam oleh asap dan energi sihir. Tanah retak, pohon tumbang, dan aroma hangus memenuhi udara.
Manusia dan elf saling berhadapan dengan wajah penuh tekad dan ketakutan. Dari tengah kekacauan, tanah terbelah. Sosok raksasa bangkit golem kristal merah, jauh lebih besar dari sebelumnya, menyerap energi perang di sekitarnya. Setiap langkahnya menghancurkan tanah, melemparkan manusia dan elf tanpa pandang bulu. Kristal di tubuhnya berdenyut mengikuti denyut konflik.
Dragonair mengangkat kepalanya dan mengeluarkan suara nyaring. Nada itu bukan teriakan, melainkan panggilan. Hutan menjawab. Makhluk-makhluk magis bermunculan dari segala arah: rusa bercahaya, burung berapi kecil, roh-roh angin. Mereka menyerbu bersama, bukan sebagai ras yang terpisah, tetapi sebagai penjaga alam.
Miamor dan Myuran maju ke depan. Pedang es dan pedang air berkilau, berpadu dengan panah sihir Cellestial. Serangan demi serangan menghantam tubuh golem. Es membekukan sendinya, air menghantam retakannya, panah merah muda menembus inti kristalnya. Dragonair melayang tinggi, mengumpulkan cahaya biru keemasan dari langit dan tanah.
Dengan satu semburan api terakhir, golem itu hancur. Kristal-kristalnya pecah menjadi serpihan cahaya yang memudar perlahan. Keheningan jatuh. Dari debu yang tersisa, sebuah artefak kuno terjatuh artefak elf yang hilang. Cahaya hijaunya berdenyut pelan, seolah bebas dari kendali yang salah.
Tak ada sorak. Hanya kesadaran. Roslyn menurunkan busurnya. Raja Arthropoda melakukan hal yang sama. Tatapan mereka bertemu, penuh pertanyaan dan penyesalan. Perang berakhir tanpa kemenangan, hanya pemahaman.
Perdamaian akhirnya muncul. Semua saling membantu atas kekacauan yang telah terjadi. Dan dimulainya perayaan.
Saat perayaan dimulai, ketiganya berdiri sedikit terpisah. Pikiran Miamor terus berputar tentang artefak, tentang golem, dan tentang makhluk bersayap yang pernah disebutkan burung magis.
Di tengah hutan, di antara semak-semak yang gelap, sebuah bayangan kecil memperhatikan mereka dari jauh. Tubuhnya mungil, berselubung jubah hitam, wajahnya tersembunyi. Ia menatap ke arah mereka dengan pandangan tajam dan dingin. Ketika hendak berbalik pergi, kakinya menginjak ranting.
"Krak!"
Miamor spontan menoleh. "Siapa di sana?!"
Namun yang tersisa hanyalah jubah kecil di tanah… dan taburan halus seperti serbuk sari bunga yang berkilau tertiup angin malam.
Miamor menatapnya lama. Angin berhembus pelan, membawa aroma lembut dari serbuk itu.
"Apa itu?" tanya Cellestial.
"Entahlah… tapi rasanya ini belum berakhir," jawab Miamor ragu.
Langit malam bersinar lembut. Dragonair melingkar di sekitar mereka dengan tenang, sisiknya memantulkan cahaya bintang yang jauh. Rahasia besar masih tersimpan di langit, menunggu waktu untuk diungkap.
*****
![THE MEDIEVAL HISTORY [HIATUS]](https://watt-pad.ru/media/stories-1/6c9c/6c9cdcc6b5c0630b8f952d2c02319f01.avif)