28: The Difference
ETHAN tersandar di tembok yang sudah tidak terlihat oleh Vania. Ia memejamkan matanya. Semoga ini pilihan yang terbaik. Ia berjalan dengan cepat ke arah kantin, mencari beberapa orang.
Saat di kantin, Ethan menangkap sekelompok cowok dengan atribut tak lengkap dan dua kancing dari atas yang di lepas sehingga terlihat kaus dalamannya. "Woy, Hen!" pekiknya.
Yang di panggil menoleh, nyengir. "Ethan? Tumben." katanya saat Ethan mengambil kursi, dan menarik mendekat ke mereka. Ia menaikkan kakinya ke meja. "Eh, gue nggak ganggu kalian, kan, ya?" tanya Ethan melepas dua kancing dari atas—dasinya sudah ia lepas dari tadi.
Hendra dan keronco-keronconya menggeleng, "Nggak sama sekali." jawab Hendra tenang. "Well, gue boleh minta rokok?" Ethan menaikkan alisnya. Joyo, salah satu sahabat Hendra yang sedang menyedot vape di tangannya, sampai terbatuk-batuk. Semua menganga, menatap Ethan tak percaya.
"Sumpah?"
Ethan menatap mereka satu persatu, "Emang kenapa? Nggak boleh?" Hendra menggeleng, memberikan kotak rokoknya. Ethan mengambil satu batang rokok dan menyambar pemantik api di tengah meja. Lalu ia membakarkan tembakau itu.
Hendra meneliti Ethan. Ethan tak terlihat seperti orang yang baru bisa merokok. "Lo udah sering ngerokok?" tanya Didi. Ethan menghembuskan asapnya keluar, lalu menjawab, "Kalo gue lagi ada masalah, ya gitu. Minum juga pernah. Gue nggak sebaik yang kalian pikir." Ethan menghisap rokoknya.
Hendra menaikkan sebelah alisnya, "Pas lo masih culun?" tanyanya. Ethan kembali menghembuskan perlahan, "Iya. Gue udah nggak sepolos yang kalian pikir."
Ethan menoleh ke arah pintu kantin, tempat di mana ada Radit dan Bian. "Hey, kunyuks!" pekik Ethan sembari melambaikan tangannya ke arah dua sahabatnya itu. "Tumben ngerokok. Lagi ada masalah?" tanya Radit setelah mengambil kursi dan bertos satu-satu kepada para sahabat Hendra.
"Hm." gumam Ethan menghisap rokoknya, lalu menghembuskan asapnya. Lalu ia menyentil rokok, sehingga tembakau yang sudah terbakar jatuh di asbak.
"Eh, iya, Eth. Si Vania keliatan ancur banget. Kayak abis nangis gitu." Ethan menghisap rokoknya, lalu menekan puntung rokok sehingga mati. Ia menghembuskan asapnya pelan-pelan.
"Hm," gumam Ethan lagi. "Nggak usah bahas dia, bisa?" tanyanya, membuat yang ada di meja tersebut tercengang.
"Lo kenapa? Berantem? Atau lo lagi ngambek sama dia?" Ethan mendengus mendengar pertanyaan dari Radit, "Lebih dari itu semua."
"Lo... putus?" tanya Hendra ragu, menceletuk. Radit dan Bian melotot ke arah Hendra. Bisa-bisa Ethan ngamuk. Namun yang membuat Radit dan Bian tercengang. "Hm," jawab Ethan seakan malas membuka mulutnya.
Radit dan Bian menatap Ethan menuntut penjelasan. Ethan bergerak tak nyaman. "Hm. Nanti aja."
"Eh, udah bel pulang."
• • •
"ETHANIEL ABRAHAM! Di mana lo?" pekikan Elisa yang baru masuk ke rumah menggelegar. Ethan yang sedang cuek duduk di sofa menyaut dengan kencang sehingga Elisa dapat mendengarnya, "Apa?"
Lalu muncul lah Elisa dengan mata menatap Ethan menusuk, "Kenapa?" tanyanya. Ethan mengernyit, "Kenapa apa?"
"Jangan pura-pura bego!" sentak Elisa. Ethan bangkit dari duduknya, menatap Elisa tak kalah tajam, "Kenapa kalo gue mutusin Vania? Nggak boleh? Lo—"
"Vania belum merasa kalo lo mutusin dia. Lo cuma ngoreksi nyanyian dia, Ethan!"
Memang. Ethan belum menyebutkan kata; kita putus, dengan tegas. Ia hanya tak sanggup mengatakan dua kata itu. "Kalo gitu, besok gue tegaskan lagi ke dia. Selesai, kan?"
• • •
A.N
Hei, guys. Udh, gitu aja. HAHAHAH. Don't forget to tap the star and comment!
