10 страница1 мая 2026, 08:12

09: Second Victim

VANIA membaca Peringatan Keamanan Siswa yang ditempel di Mading, serelah kejadian Abry, kertas itu ditempel di Mading untuk keselamatan siswa. Ia menghela napas, Abry adalah anak yang baik, cita-citanyapun juga bertujuan baik; menjadi Presiden. Vania pernah sekelas dengan Abry waktu kelas X.

"Van," panggil seseorang membuat Vania menoleh. Ethan. "Oh, ada apa, Eth?" Ethan menggeleng, "Nggak. Reflek aja manggil lo." kata Ethan sembari membaca kertas yang tadi Vania baca.

Tanpa ia duga, Ethan menarik tangannya. Lembut, tapi cukup membuat Vania terbawa. "Ke–kenapa?" kata Vania tergagap. Bagaimana tidak, tangannya ditarik oleh cowok yang membuatnya mengucapkan ayat ke-13 dari surah Ar-Rahman;

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

"Gue minta ID Line lo, sama nomor telfon," kata Ethan tanpa basa-basi. Vania mengernyit, "Buat?" Ethan tersenyum tipis, "Buat kalo lo ada apa-apa, hubungin gue."

"Handphone lo?" tanya Vania menjulurkan tangannya. Ethan mengeluarkan handphone-nya dari saku celana, lalu menjulurkannya ke arah Vania. Vania menerimanya dan mengetik sesuatu disana. Vania mengembalikan handphone tersebut kepada sang empu, "Nih," Ethan tersenyum, "Kalo ada apa-apa hubungin gue, ya. Entar, gue miss call dulu," kata Ethan.

Ethan menekan tombol dial. Handphone Vania berbunyi di saku seragamnya. Ethan langsung menekan tombol merah, untuk memutuskan sambungan telfon. "Oke, thanks. Kalo ada apa-apa hubungin gue, dimanapun lo berada. InsyaAllah gue ada," kata Ethan lalu mengacak rambut Vania membuat Vania senyum-senyum sendiri.

"GUE MINTA NOMORNYA ETHAN DOONGGG!!"

Yap, setelah itu, semuanya heboh.

• • •

"GOSSIP telah menyebar dengan cepat, Bung. Lo minta ID Line-nya Vania?" Ethan mengangguk, "Bukan cuma ID Line doang, tapi nomor telfon juga."

"Sumpah demi apa lo?!"

"Hu-uh. Gue juga nggak tau kenapa. Tapi kayak, gue agak-agak khawatir gitu. Masalahnya, kita nggak tau pola-nya apa." Ethan duduk di bangkunya, di ikuti Radit dan Bian. Tetapi Bian duduk di meja Ethan. "Iya sih. Tapi semoga nggak ada korban lagi deh."

"Eh, gue balik dulu, yap. Pasang earphone kalian, biar kita bisa ngobrol," Bian melompat turun dari meja Ethan. Lantas meninggalkan kelas sahabatnya tersebut dan menuju kelasnya.

Benar saja. Setelah Bian keluar, bel berbunyi. Guru Matematika masuk dengan santainya. Tanpa ba-bi-bu, ia mengucapkan salam lalu memerintahkan murid untuk membuka buku pelajaran Matematika.

Dengan itu, pelajaran pertama; Matematika, dimulai. Dilanjut dengan pelajaran kedua.

• • •

"LO masih nggak inget orangnya siapa?" Ethan yang baru duduk di kursi kantin sehabis membeli Nasi Ayam Goreng menggeleng. "Sumpah demi apapun, gue capek banget. Setelah gue dapet message dari tu Unknown, gue nggak bisa tidur karena nginget itu siapa. Lo liat ni kantung mata, tebel cuy," Ethan menunjuk matanya yang menghitam.

"Yeah, kita nggak nuntut lo untuk inget sekarang juga, kali. Kita nanya aja." Radit menyuapkan french fries ke mulutnya. Ethan mengedikkan bahunya, lalu mulai menyuapkan ayam dan nasi ke mulutnya. Tadi cacing didalam perut Ethan telah berdemo minta dikasih makan.

Tiba-tiba handphone Ethan bergetar. "Siapa sih, ganggu waktu makan gue aja. Minta ditabok." Ethan menyuapkan kembali nasi dan ayam lalu merogoh saku celananya.

Vania calling...

"Siapa?" tanya Bian pada Ethan. "Vania," gumam Ethan menjawab, lantas menekan tombol hijau.

"Halo. Van, kenapa?"

"Eth, cepetan ke," jeda karena Vania yang sedang mengambil napas, "Ke..., sini." gumamnya dengan nada lemas.

Badan Ethan menegang. "Ada apa? Lo dimana sekarang?"

"Gue nggak tau ada apa, tapi lo kesini. Gue ada di... Taman Belakang Sekolah."

"I'll be there."

Lalu Ethan lantas memutuskan sambungan telfon. "Kenapa?" tanya Radit penasaran. "Gue nggak tau ada apa, tapi nada bicara Vania kayak lemes. Taman Belakang."

Dengan itu semua bergerak ke arah Taman Belakang Sekolah. Ternyata, disana sudah banyak orang yang mengerubun. Ethan tak bisa melihat ada apa. Ia kembali mendalami kerumunan itu. Tepat saat ia sampai barisan depan. Ia bisa melihat apa yang terjadi. Zeera. Gadis itu sudah tercabik-cabik serta sayatan di tubuhnya. Dan sang pembunuh ternyata sengaja membuat Zeera terduduk, namun nyawa gadis itu sudah tak tertolong.

Ethan langsung berlari kearah Vania yang wajahnya memucat. "Lo nggak apa-apa?" tanya Ethan merangkul bahu Vania lembut. "Bawa gue pergi, Eth, gue nggak tahan. Baunya nggak enak." gumam Vania lirih. Kondisi gadis itu sangat lemah. Ethan menatap Vania ragu, "Lo bisa jalan?"

"Bi... Bisa." jawab Vania lirih. "No, you can't." Dengan itu, Ethan menaruh tangannya di kaki Vania bagian belakang dan menggendongnya ala bridal style. Saat mata Ethan bertemu dengan Radit, ia lantas mengkode kepada sahabatnya agar menghubungi NASC.

Ethan membawa Vania menjauh dari Taman Belakang dan membawanya ke UKS untuk dibuatkan teh hangat. Saat sampai di UKS, Ethan mendudukkan Vania di kasur UKS. Lalu ia berjalan mengambil gelas, teh, dan air dari dispenser yang disediakan di UKS. "Lo kenapa pucet banget?"

"Gue shock, Eth. Gue takut." Vania menunduk, ia menangis. Ethan menatap Vania sendu sembari tangannya bergerak mengaduk gula di cangkir yang berisi air teh. Suara isakan dari Vania terdengar di UKS, karena UKS sepi.

Ethan menghela napas. Badannya bergerak menaruh cangkir teh di meja samping kasur, lalu berdiri dihadapan Vania. Tangannya bergerak ke dagu Vania, dan mendongakkan kepala gadis itu. Mata mereka bertemu. Mata hitam pekat milik Ethan, dan mata cokelat milik Vania. "You'll be okay," kata Ethan lembut, berusaha menenangkan Vania. "Lo trauma?" Vania menggeleng, "Gue shock, aja. Cuma gue nggak akan lupa kejadian ini."

Ethan manggut-manggut, lantas ia duduk di samping Vania, "Minum ini." Ia menyodorkan cangkir itu ke arah Vania. Vania menerimanya dengan tangan bergetar. "Lo nggak apa-apa, kan? Lo belom jawab pertanyaan gue tadi."

Vania mengangguk, "Gue nggak apa-apa." Ethan kembali mengangguk, ekspresi lega sangat jelas diwajahnya. Vania menaruh cangkir teh tadi di meja kecil, lalu berbaring dikasur. "Udah tenangan?" tanya Ethan lagi. "Udah."

"Gue bisa tanya sama lo?" tanya Ethan, menatap wajah Vania yang sekarang sedang terbaring. Ia turun dari kasur dan menarik kursi di samping kasur. "Apa?" tanya Vania menatap Ethan. "Bagaimana bisa lo nemuin itu?"

"Gue nggak tau juga. Gue lagi nyari udara aja. Tiba-tiba nyium bau nggak enak. Gue nyari asal-usulnya, ternyata disitu. Gue langsung teriak. Banyak orang yang dateng. Tapi mereka cuma ngeliat, nggak nolongin. Akhirnya di otak gue kelintas ucapan lo tadi pagi. Gue ngeluarin handphone gue, dan pas gue nelfon lo, kepala gue pusing banget karena baunya nggak enak." kata Vania.

"Kenapa lo nggak kabur?" Vania menyampingkan kepalanya, agar bisa menatap wajah Ethan yang handsome as hell itu. "Gue shock, banget. Badan gue kaku. Nggak bisa lari."

"Okay."

Hening.

Vania menatap langit-langit UKS. "Kenapa lo nanya ke gue?"

"Karena... Lo yang ngeliat."

"Lo kan udah tau jawabannya dari Zeera waktu itu. Kenapa nanya ke gue, lagi?"

Ethan yang tadinya menatap ke arah lain menoleh ke arah Vania kaget. "Lo kok..., tau?"

Vania mendengus. "Lo kira gue nggak tau? Gue ngeliat lo datengin UKS, tau."

"Cemburu, ya?" goda Ethan memasang wajah tengilnya. Vania menggeleng salah tingkah, "Apaan sih? Nggaklah. Ya kali."

"Bo'ong, ih." kata Ethan memasang senyum jail. Vania menoleh ke arah Ethan, terkekeh, pipinya memerah. "Apaan sih? Nggaklah. Masa gue cemburu."

Ethan tergelak melihat wajah Vania yang menurutnya lucu itu. "Udah. Jangan ngalihin pembicaraan! Kenapa lo nanya-nanya kayak gitu?" tanya Vania membuat Ethan terdiam.

"You'll know someday, sweetheart," Ethan tersenyum. Pipi Vania kembali memerah karena Ethan mengucapkan 'Sweetheart' kepadanya. "Pret. Gombal." kata Vania terkekeh. Ethan berdeham, "Nanti malem, pergi, yuk. Ada acara, nggak?"

Dahi Vania mengernyit, "Pergi? Nanti malem? Yang bener?" Ethan mengangguk pasti, "Iya. Nanti malem. Mau, nggak?"

Mana ada yang nolak coba, batin Vania. Tapi karena gengsi, ia pura-pura berpikir. Padahal bisa aja dia langsung jawab 'Mau' tanpa pikir panjang. Ethan menatapnya penasaran. "Mau."

"Oke. Nanti sore gue Line, ya?"

Vania mengangguk. "Oke."

• • •

"APA?!"

        Risca dan Fara memekik kompak, "Apaan sih? Biasa aja kali. Dia kan cuma ngajak gue pergi, nanti malem." Risca dan Fara saling pandang. "Kenapa sih? Kalian aneh banget."

        "Lo tau, kan? Hari ini hari apa?" Vania mengangguk, "Taulah. Hari Sabtu. Kenapa?" Fara manggut-manggut, "Jadi, malem ini malem apa?" Vania nampak berpikir, "Malem Minggu, kan?"

        Risca dan Fara gereget. "LO DIAJAK NGE-DATE, VANIAAAA!!"

        "Nggak ah. Ngajak makan doang."

• • •

A.N

Heyho! Sumpah demi apapun, gue bete karena udah pengen masuk sekolah. Huhuhu. Aku tak pengen. 😢😢😢😢😢😢. SO, gue dapet info kalo MOS(Masa Orientasi Siswa) dilarang. Nggak tau ini bener apa nggak. Tapi yang masuk SMP atau SMA, kalian harus tetap berdo'a. Agar MOS ditiadakan seterusnya, dari zaman ke zaman. #apasih. You're so lucky! Walaupun MOS gue nggak seberapa memalukan, tapi tetep aja gue sebel. Mending tidur dirumah tau nggak? Bisa molor ampe siang. Nah kan, jadi CurCol. Gue bacot banget, masyaAllah. Don't forget to tap the star⭐️ and comment💬!

10 страница1 мая 2026, 08:12

Комментарии

0 / 5000 символов

Форматирование: **жирный**, *курсив*, `код`, списки (- / 1.), ссылки [текст](https://…) и обычные https://… в тексте.

Пока нет комментариев. Будьте первым!